Lama sudah saya tidak menulis di blog ini, selain kesibukan yang melanda akhir – akhir ini, ternyata di tahun yang lalu masih menyisa kan figur yang menarik untuk diceritakan kembali. Sehabis makan malam tadi, seperti biasa melihat – lihat ada kabar apa di perekonomian dunia. Apakah moral bangsaku masih berbau kapitalis?apakah mereka masih menjadi budak materialisme?apakah orang – orang yang mengaku Nasionalis masih menjilat kaki para konglomerat kapitalis? huh.. ternyata masih saja tidak berubah. Cukup kesal juga melihat kejadian ini, padahal mata kita sudah dibuka lebar untuk melihat bagaimana kapitalisme mulai runtuh dengan dimulainya krisis di AS, dengan ulah mereka yang terlalu serakah, tidak pernah membantu sesama. Ide untuk menulis ini juga terpengaruhi ketika sedang berdiskusi dengan teman – teman ketika berkunjung ke Brisbane.
Kalo dirunut kembali mengapa Amerika bisa mengalami krisis ekonomi global, karena mereka tidak lagi menggunakan emas sebagai pendukung cadangan devisa mereka sejak 1973, melainkan menggunakan uang kertas sebagai alat tukar yang tidak ada nilai riilnya (Lim Siok Lan, 2008). Yang terjadi dsini adalah penggelembungan nilai mata uang. Dollar Amerika nilainya membumbung tinggi dipasaran, dan yang terjadi adalah Inflasi. Seharusnya nilai inflasi adalah nol, karena nilai barang dihargakan sama dengan nilai tukar. Misal,logikanya bagaimana bisa nilai motor yang harganya sekitar 1 Kg emas hanya dihargai $US100 yang nilai riil dari uang kertas itu mungkin hanya seharga kertas dan tidak sampai 1 gram emas. Tapi yang terjadi adalah banyak uang dollar yang beredar di pasar uang tanpa terkendali, maka dari itu terjadilah inflasi, dan yang terjadi harga membumbung tinggi sehinggar rakyat kecil tidak mampu beli. “Sebagai gambaran, dollar AS yang ada di pasaran 80 triliun dollar setahunJumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan dunia yang jumlahnya sekitar 4 triliun dolar AS pertahun. Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak 20 kali lipat dari dimensi yang biasa. Gelembung ini tentu akan terus membesar dan membesar” (Liem Siok Lan, 2008). Sekarang buat apa kita berprilaku konsumtif dan terus membuang – buang uang hanya untuk menyenangkan kaum kapitalis dan ingin merasa diri kita seperti layaknya mereka yang hedonisme dan mencerminkan global. Tidak ada gunanya, hanya akan memperkaya mereka dan menenggelamkan kita tanpa disadari. Kita bangga ketika minum red wine dari Perancis, memakai tas LV, membeli sepatu BALLY, dsb. Tanpa kita sadari globalisasi akan menyerang kita tanpa ampun untuk mencapai tujuan mereka yaitu Homogenazation atau biasa disebut penyamarataan global (The UN report, 2003). Sebaiknya kita harus bersikap produktif tanpa harus konsumtif, seperti halnya Cina yang merupakan negara maju yang menerapkan sikap produktif walaupun hanya di sektor rill yang kecil dan sekarang menjadi salah satu negara yang kuat ekonominya.
Sedih rasanya melihat kita masih sibuk sekali untuk berpesta pora ketika tahun baru 2009 tiba, asyik berfoya – foya, sementara rakyat kecil tidak tau apa makna dari tahun baru tersebut, karena mereka hanya memikirkan bagaimana besok bisa makan. Kenapa kita tidak jadikan ajang tahun baru 2009 ini untuk merenung bagaimana memperbaiki bangsa dengan memperbaiki diri kita dulu untuk tidak berprilaku konsumtif dengan tidak selalu hidup dengan pola konsumerisme, coba ada kiranya bersikap produktif dan menyisihkan sebagian dari harta kita untuk mereka yang tidak mampu, daripada kita memberikan harta kita untuk pihak kapitalis, dengan berpola hidup mewah. Mari sama – sama mensejahterakan bangsa dengan pemerataan, dan membantu yang kurang mampu, setidaknya dimulai dari diri sendri. Mudah – mudahan tercapai.


